Senin, 28 Desember 2009

Kyai turun tahta


Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil 'aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba'du...

Kalau selama ini dikenal ada istilah lengser keprabon [1], kemudian mandek pandita[2], maka masih juga dilanjutkan ke level lebih tinggi lagi, lengser kapanditaan mandeg rakyat[3]. Hal itu dilakoni oleh Kiai Qulyubi. Ia masih keluarga pesantren Tawangsari Sepanjang Surabaya, yang didirikan para santri Sunan Ampel. Kemudian ia merantau dan mendirikan pesantren di daerah rantau itu, sebelah barat Kota Jombang, kemudian menikah dengan gadis setempat yang sangat cantik, anak keluarga berada, sehingga banyak membantu pembangunan pesantren.

Karena pesantren baru, maka masih diurus sendiri, tetapi lama kelamaan banyak santri yang datang, sehingga tidak bisa dikelola sendiri, kemudian ia mengajak beberapa teman-temannya untuk ikut mengajar di pesantrennya yang sudah mulai berkembang itu. Memang kemudian banyak yang membantu mengajar di sana, walaupun tidak menetap di sana.

Para kiai muda yang membantunya itu antara lain bernama Munawar, ia seorang bujangan yang pandai dan enerjik, karena itu paling giat membantu mengajar. Sementar Kiai Qulyubi sendiri walaupun masih muda tetapi seorang sufi yang alim, sehingga waktunya banyak digunakan untuk uzlah [4] di kamarnya, sehingga pengajian banyak yang dipegang Kiai Munawir.

Pada suatu hari Kiai Qulyubi menanyakan pada Munawar, mengenai saatnya bagi dia untuk menikah, apakah sudah ada pilihan, kalau belum akan dicarikan. Kiai Munawir dengan berat mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah berniat berkeluarga, tetapi sayang wanita pilihannya, telah menjadi isteri orang lain.

“Wah ya berat kalau begitu, apa tidak ada pilihan lain” Tanya Kiai, “kalau perlu saya perlu carikan”

“Tidak kiai saya tidak punya pilihan lain, biarlah saya begini saja, membujang, malah bisa berbuat banyak pada agama” Jawabnya.

“Kalau boleh tahu siapa sih wanita yang saudara idamkan itu” ? Tanya Qulyubi

“O.., tidak bisa kiai ini sangat pribadi dan bisa menyinggung perasan orang lain”

“Tolong sebutkan saya akan merahasiakan”

“Kalau saya sebutkan justeru Kiai yang akan tersinggung”

“Kenapa saya tersinggung apakah dia saudara saya”?

“Tolong sebutkan” Qulyubi semakin penasaran

1 komentar:

  1. he he ternyata bu nyainya.wanita idaman kang munawir.istrinya kyai kulyubi

    BalasHapus